“Besar Kecil Sama Saja, Asal Nggak Sendiri”

PAMERAN VIRTUAL SENI DAN ARSITEKTUR RUMAH SUSUN 

PEMBUKAAN PAMERAN
SELASA 14 JULI 2020
PUKUL 16.00-17.30 WIB

MELALUI KANAL YOUTUBE GUDSKUL

PAMERAN
14 – 27 JULI 2020

www.gallery.gudskul.art

Karya Kolaborasi 3 Seniman

Angga Cipta ( @acipdas )

Raslene ( @dikejarpohon )

Rifandi Nugroho ( @rifandisn )

Besar Kecil Sama Saja, Asal Nggak Sendiri

Rifandi Septiawan Nugroho

 

Wacana membangun rumah susun di Jakarta muncul pada pertengahan tahun 1950-an lewat gagasan Gubernur Sudiro. Saat itu, pemerintah ibukota yang baru seumur jagung menghadapi kesulitan menata lahan hunian, setelah Menteri Sosial menyerahkan urusan perumahan ke pemerintah kota. Karena belum ada lembaga keamanan yang memadai, praktik “serobot-menyerobot” dan “backing orang bersenjata” dalam penguasaan lahan merajalela, pembangunan hunian liar pun kian tak terkendali. Menghadapi itu, Sudiro menawarkan solusi alternatif di depan anggota dewan: membangun hunian tidak lagi secara “horizontal”, melainkan “vertikal”. Seketika tawarannya mengundang kelakar sebagian wakil rakyat, “Kalau penghuni yang di atas kencing, penghuni yang di bawah bisa basah!”[1]

Bagi sebagian besar orang Jakarta yang terbiasa “menduduki” sebidang tanah saat itu, persepsi hubungan “atas-bawah” di rumah susun menimbulkan kecanggungan baru. Rumah susun melahirkan makna dan cara baru berhuni yang sulit dipahami tanpa mendekati subjek yang tinggal di dalamnya. Lewat interaksi inderawi yang utuh dengan dunia di luar dirinya, penghuni rumah susun melihat, memahami, dan menghidupi secara aktif ruang-ruang di keseharian. Proses ini disebut Lefebvre sebagai siklus praktik spasial, yang menempatkan tubuh manusia sebagai subjek adaptasi dan apropriasi terhadap lingkungannya. Dengan menyadari adanya kondisi sikap dan tata nilai yang berbeda dari rumah biasa, rumah susun menjadi tempat yang menciptakan banyak peluang bagi lahirnya transformasi budaya baru untuk kita pelajari.

Rumah susun pertama berdiri di Klender dan Kebon Kacang pada dekade 1980-an, disusul rumah susun lain pada tahun-tahun berikutnya, termasuk Dakota Kemayoran (1991) dan Harum Tebet (1995), dua tempat yang menjadi arena belajar proyek ini. Di sana budaya baru berhuni di Jakarta lahir, yang semula menapak bebas di atas sebidang tanah, lalu menumpu berdampingan di atas lapis-lapis penampang pelat beton. Pemandangan pekarangan luas berganti koridor, balkon, dan lubang-lubang cahaya. Persepsi vertikal memperkaya hubungan horizontal. Interaksi antar penghuni tak dapat dihindari, dari sejak membuka pintu kamar, hingga ketika bergerak turun dan naik untuk berbagai keperluan. Suka tidak suka, tipologi rumah susun menggiring penghuni untuk hidup “merdeka dalam ikatan kebersamaan”.[2]

Apa yang dapat kita pelajari dari Rumah Susun setelah lebih dari 30 tahun berdiri di Jakarta? Bagaimana cara mengartikulasikan pengalaman dan produksi ruang di rumah susun, baik fisik maupun sosial, dari kacamata pengalaman utuh penghuninya? Dua pertanyaan itu menjadi premis awal proyek ini.

Judul pameran ini dipelintir dari jargon sebuah perbankan yang menawarkan kredit cicilan ringan untuk hunian di awal tahun ‘90-an, dengan bunyi asli “Besar Kecil Sama Saja, Asal Rumah Sendiri”. Jika pameo itu menekankan kepemilikan individu dalam kerangka investasi nilai ekonomi, pada praktik sehari-harinya, rumah susun bukan sekedar barang konsumsi. Ia memuat berbagai tegangan hidup kolektif; berbagi tempat, perangkat, dan siasat hidup di antara konstruksi batas dan sekat yang telah dibuat. Ikatan sosial antar penghuni melenturkan petak privat dan publik yang terproyeksi di dalam perencanaan fungsional. Kemutakhiran fitur-fitur yang ditawarkan di awal lambat laun memudar; dimakanai, dikonversi, diokupansi, ditumpuk, dialihfungsi, dan dibongkar sesuai dengan konteks perkembangan kebutuhan. Rumah Susun bukan lagi sekedar “mesin hunian” pribadi, tapi juga menyoal ruang-ruang negosiasi.

Dari pengalaman dan kejadian yang dilalui oleh penghuni Rumah Susun, lahir taktik untuk meregangkan ketegangan yang ada. Lewat pembacaan, pemahaman, dan artikulasi ulang atas pengalaman itu, terbentuk pengetahuan baru. Hal ini dapat kita amati langsung dari pengalaman dua seniman di dalam proyek ini; Angga Cipta (Acip) yang tinggal di Rumah Susun Kemayoran dan Raslene yang mengontrak di Rumah Susun Tebet.

[1]               Catatan Sudiro dalam Karya Jaya, 1977

[2]               Pernyataan Pak Asmuni dalam Cintaku di Rumah Susun, 1987

 

Acip tumbuh besar di Rumah Susun Kemayoran sejak tahun 1992, di sebuah blok bangunan yang diberi nama Dakota. Acip dan keluarga pindah ke sana setelah rumahnya di Jalan Haji Jiung diratakan untuk pengembangan wilayah expo Kemayoran. Selain Dakota, nama-nama blok rusun itu diasosiasikan dengan perintilan pesawat terbang lainnya, seperti Apron, Boeing, dan Conver, untuk mengingat identitas Bandara Kemayoran. Meski begitu, bagi generasi kedua yang lahir dan besar di sana seperti Acip, yang melekat di ingatan justru bukan tentang indahnya terbang di udara, melainkan sesuatu yang menapak kuat di atas tanah; bermain bola bersama teman-teman, membolos ke rental playstation, mengunduh film di warnet, membacakan puisi di hari kemerdekaan, menerima penghargaan siswa berprestasi, hingga menyaksikan anak muda tawuran, mabuk, atau sakau karena narkoba.

Belakangan, pengalamannya mengkristal dalam karya video untuk lokakarya Jakarta 32° tahun 2008. Dari matanya, terekam kecerdasan warga pada skala yang intim; menyandarkan sepeda di lorong senyap, menjemur pakaian di antara lubang terhembus angin, berbagi makanan lewat jendela kamar, menarik seutas tali untuk belanja di warung bawah, hingga berbagi ruang serta perabot di depan rumah. Acip hijrah dari Rumah Susun ketika mulai bekerja ke sebuah rumah kontrakan bersama teman-temannya. Dengan pernah tinggal di Rumah Susun, Acip tidak hanya mendapatkan keuntungan untuk bisa “luwes” hidup berdampingan dengan orang lain, ia juga menjadi pengamat yang handal dalam merekam budaya urban, sebagai modal praktik artistiknya selama ini.

Sebaliknya bagi Raslene. Lebih dari dua puluh lima tahun tinggal di rumah, Raslene pindah ke lantai empat Rumah Susun Tebet pada tahun 2019. Baik di rumah maupun di Rumah Susun, Raslene lebih suka menjelajah isi pikiran di kamar tidurnya sendiri. Meski begitu, pindah ke Rumah Susun memaksanya lebih mandiri; membersihkan genangan air di balkon, mengusir tikus-tikus liar, mengisi ulang galon dan gas (dengan mengangkutnya dari lantai bawah), hingga belanja bahan makanan sehari-hari–beragam aktivitas yang justru sangat terkait erat dengan pola kebutuhan domestik.

Dengan ruang terbatas ia bersiasat mengatur perabot seefisien mungkin. Tinggi tubuhnya sekitar 155 centimeter dan lebar 38,5 centimeter. Raslene merancang sendiri perabotan di sana sesuai ukuran itu. Ranjangnya dibuat dari susunan kotak kayu peti kemas yang sekaligus peti penyimpanan di bagian bawahnya. Lemari baju menjadi sekat area tidur dan duduk. Selain itu, perabot bongkar pasang menggantung pada dinding untuk menjaga lantai tetap leluasa dari barang-barang. Seketika pola hidup Raslene berubah, dibentuk oleh ruang yang dihuninya, sebagaimana ia membentuk ruangan itu.

Selama kurang lebih enam bulan sebelum pandemi, para seniman dan kolaborator melakukan proses bolak-balik “bermain” ke Rumah Susun Tebet dan Kemayoran, dua arena belajar sekaligus tempat tinggal dua seniman di dalam proyek ini. Mereka menganbil jarak dengan lingkungan tempat tinggalnya masing-masing, memahami ulang relasi ruang, tubuh, dan ingatan di setiap sudut rumahnya. Dengan begitu, mereka memainkan peran ganda, sebagai subjek yang mengamati sekaligus yang memproduksi ruang. Melalui proses artikulasi pemahaman bersama, pada akhirnya, pameran ini menjadi modul belajar yang dapat mengantar kita untuk mengenal imajinasi, siasat, dan pengalaman keseharian berhuni di rumah susun dengan lebih dekat. Dari sudut pandang dua seniman yang menjadi subjek yang tinggal di rumah susun, setidaknya kita mendapatkan kaca mata lain tentang rumah susun di luar aspek fisik dan fungsional. Menyelidiki aspek sosial dan kultural, serta menyerap pengetahuan lewat pengalaman keseharian rumah susun adalah hal utama yang dicari di dalam pameran ini.

Katalog

Play Video